Dasar filsafat

Asal  kata Filsafat, sekitar abad IX SM atau paling tidak tahun 700 SM diyunani, Sophia diberikan arti kebijaksanaan, Sophia juga berarti kecakapan. Banyak sumber yang menegaskan bahwa sophia mengandung arti yang lebih luas daripada kebijaksanaan. Artinya ada berbagai macam, antara lain : (1) kerajinan, (2) kebenaran pertama, (3) pengetahuan yang luas, (4) kebajikan intelektual, (5) pertimbangan yang sehat, (6) kecerdikan dalam memutuskan hal-hal yang praktis. Dengan demikian asal mula kata filsafat itu sangan umum, yang intinya adalah mencari keutamaan mental ( the pursuit of mental excellence ). Kata Philosophos mula-mula ditemukan dan dipergunakan oleh Heraklitos ( 540 – 480 SM ). Philosophia  adalah hasil dari perbuatan yang disebut Philosophein, sedangkan  Philosophos adalah orang yang melakukan Philosophein. Dari kata Philosophia itulah nantinya timbul kata-kata Philosophie ( Belanda, Jerman, Perancis ), Philosophy ( Inggris ). Dalam bahasa Indonesia disebut Filsafat / Falsafat.

Dalam pembahasan ini diterangkan mengenai pengertian filsafat kosmosentris,teosentris, antroposentris dan  logosentris serta perihal yang menyangkut keempatnya.

  1. Filsafat Komosentris

Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus,ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi,filosofi, dan agama. Kosmologi berasal dari kata Yunani kosmos dan logos. Sedangkan  kosmosentris berarti bersifat kosmologi. Kosmos berarti susunan, atau ketersusunan yang baik. Lawannya ialah khaos, yang berarti kacau balau. Sedangkan logos juga berarti keteraturan, sekalipun dalam kosmologi lebih tepat diartikan sebagai azas-azas rasional. Dalam sejarah filsafat Barat, tercatat Phytagoras (580 ± 500 SM) merupakan orang yang pertama kali memakai istilah kosmos sebagai terminologi filsafat.

Istilah kosmologi (cosmology) dipakai pertama kali oleh Christian von Wolff dalam bukunya Discursus Praeliminaris de Philosophia in Genere tahun 1728, dengan menempatkannya dalam skema pengetahuan filsafat sebagai cabang dari metafisika dan dibedakan dengan cabang-cabang metafisika yang lain seperti ontologi, teologi metafisik, maupun psikologi metafisik.

Secara sistematis, kosmologi filsafat dibedakan dalam empat kelompok varian besar dengan dasar pengelompokan:

(1) Berpijak dari keyakinan ontis bahwa hakikat dunia itu jamak ataukah tunggal;

(2) Kedudukan manusia dalam kosmis;

(3) Esensi dan substansi manusia dengan esensi dan substansi dunia yang lain;

(4) pendekatan sintesis.

Secara sistematis, perspektif-perspektif kosmologi metafisistentang waktu, sebagaimana banyaknya varian pendekatan dalam kosmologi, secara garis besar dapat dipilah dalam empat kelompok, yakni:

(1)Subjektivisme yang menyatakan bahwa waktu merupakan sesuatu yang tidak nyata, hanya bersifat subjektif-individual. Pemikiran yang demikian dianut oleh Parmenides, Zeno, Budhisme, Advaita Vedanta, Descartes, Leibniz, Locke, Hume, Berkeley, Fichte, Scheling, Hegel, Kant, Morris Schlick, Reichenbach, dan Carnap;

(2)Realisme Ekstrem yang menyatakan bahwa waktu merupakan realitas absolut yang universal,tidak mempunyai kesatuan yang intrinksik dan hanya menunjukkan urutan-urutan murni. Kosmologi yang demikian dapat ditemukan pada kosmologi Indonesia/Jawa, Jaina, Nyanya, Vaiseshika, Gassendi, Newton, Clarke, Whitehead, dan Alexander;

(3)Realisme lunak, yang menyatakan bahwa waktu merupakan aspek perubahan yang nyata, sekalipun dihasilkan oleh subjek yang berabstraksi. Corak kosmologi yang demikian nampak pada pemikiran Aristoteles, Agustinus, Thomas Aquinas, Einstein, dan kosmologi Pancasila;

(4)Subjektivisme lunak yang menerima waktu sebagai suatu yang heterogen sebagaimana dikemukakan oleh Bergson, atau sebagai dimensi historis dari pribadi, sebagaimana diyakini oleh eksistensialisme. Dari peta kosmologi di atas,terlihat bahwa tradisi kosmologi timur paling dominan diwarnai oleh subjektivisme dan realisme ekstrem. Dari berbagai varian yang ada itu pula, kiranya dengan mudah dapat dilihat konsekuensi-konsekuensi logis dari suatu varian pemikiran kosmosentris terhadap pandangan manusia tentang aspek-aspek lain dari kehidupannya.

 

 

  1. Filsafat Teosentris

Filsafat teosentris adalah sebuah pemikiran dimana semua proses dalam kehidupan di muka bumi ini akan kembali kepada Tuhan. Pada filsafat abad pertengahan, pemikiran-pemikiran selalu berdasarkan peraturan agama, kitab suci, dan tradisi agama, segala sesuatu yang bertentangan dianggap salah.Manusia sebaga viator mundi (khalifah yang berziarah diduniaini), sedangkan zaman kini lebih ke faber mundi (manusia yang menciptakan dunianya).

Pemikir yang terkenal menggunakan filsafat teosentris adalah al-Ghazali dengan filsafat pendidikannya, yang didalamnya memuat asas teologis, dimana konsep antroposentris merupakan bagian esensial dari konsep teosentris. Kattsoff pada bukunya Elements of Phylosophy membuktikan adanya Tuhan.

Alam semesta yang luar biasa rumit namun tersusun dengan baik dan tertib, begitu juga dengan sistem tubuh manusia. Susunan yang tertib tersebut pasti mengandung arti adanya suatu tujuan, karena tujuan berarti tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang/sesuatu penciptanya. Kemudian dari pembuktian tersebut muncul pertanyaan “Mengapa saya ada (di sini?)”.

William E. Hocking memiliki pemikiran dalam filsafat teosentris mengenai Tuhan sebagai sumber segala pengetahuan.

Selain itu Hocking juga memiliki sebuah pemikiran bahwa Tuhan merupakan suatu kenyataan pendahuluan yang harus ada. Inti dari pemikiran ini terletak pada watak alam yang mengharuskan adanya Sang Pencipta. Dengan demikian maka Tuhan merupakan suatu premisme harus ada bagi adanya dunia dan bukan hanya hipotesa belaka.

 

  1. Filsafat Antroposentris

Antroposentris menjelaskan kecenderungan manusia untuk menganggap diri mereka sebagai entitas pusat dan yang paling penting di alam semesta, atau penilaian realitas melalui perspektif eksklusif manusia. Menurut Socrates, Plato, dan Aristoteles yang hidup pada masa yunani klasik arah pemikirannya pada manusia. Maka corak pemikirannya filsafat tersebut disebut Antroposentris.

Istilah ini dapat digunakan bergantian dengan humanocentrism, sedangkan konsep pertama juga bisa disebut sebagai supremasi manusia. Pandangan terutama yang berhubungan dengan kebudayaan agama tertentu. Antroposentrisme adalah sebuah konsep utama dalam bidang etika lingkungan hidup dan filsafat lingkungan , di mana ia sering dianggap sebagai akar penyebab masalah yang diciptakan oleh interaksi manusia dengan lingkungan.

 

  1. Filsafat Logosentris

Disadari atau tidak disadari, cara berpikir manusia modern, tak lepas juga dari pengaruh perkembangan pemikiran dalam filsafat. Meski bisa jadi seseorang tak pernah belajar filsafat langsung, namun bukan berarti cara berpikir yang berasal dari perkembangan filsafat tak bisa mempengaruhi kita. Lebih jauh lagi, dalam ilmu pengetahuan pun bisa dikatakan sebagian besar perkembangan pernik-pernikilmu di dalamnya begitu dipengaruhi perkembangan filsafat, yang dalam hal ini lebih mengarah pada Filsafat Barat, ketimbang Filsafat Islam atau Filsafat Timur.

Logosentris secara sederhana bisa dikatakan sebagai cara berpikir yang berpusat pada logos. Secara umum, dalam terjemahan-terjemahan,logos kerap diterjemahkan sebagai ilmu. Jadi kalau ada kata psikologi, maka orang-orang psikologi barangkali akrab dengan terjemahan Psike plus logos yang diparalelkan dengan Jiwa plus ilmu, sehingga terjemahan Psikologi adalah Ilmu Jiwa. Tak jauh beda dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia, logos diterjemahkan sebagai Firman, sehingga kalimat dalam Yohanes 1:1 yang berbunyi: en arche en hologos diterjemahkan sebagai Pada awalnya adalah Firman.

Istilah logika pertama kali digunaka pada Cicero (abad 1 SM) dalam arti seni berdebat. Alexander Aphrodisias (abad 3M) adalah filusuf pertama yang menggunakan kata logika dalam arti ilmu yang menyelidiki tingkat kelurusan pikiran manusia. Pada dasarnya logika menjadi asas penentu pemikiran yang lurus, tepat dan sehat.

Popkin dan Stroll menguraikan lebih dahulu perbedaan antara Etika, Metafisika lalu Logika sebagaiba gian dari filsafat.

Sebagai salah satu cabang filsafat, maka logika dapat dibagi menjadi:

1) Logika dalam arti sempit dapat disama artikan dengan logika deduktif atau

logika formal. Logika deduktif adalah logika yang mempelajari asas- asas penalaran yang bersifat deduktif, yaitu penalaran yang menurunkan suatu kesimpulan sebagai kemestian dari pangkal pikirannya. Logika formal mempelajarai asas-asas, aturan-aturan atau hukum-hukum yang harus ditaati, agar dapat berpikir dengan benar sehingga dapat memperoleh kebenaran,

2) Logika dalam arti luas mencakup perbincangan yang sistematis mengenai pencapaian kesimpulan-kesimpulan dari pelbagai bukti dan tentang bagaimana sistem-sistem penjelasan disusun dalam ilmu alam,termasuk penjelasan logika di dalamnya,

3) Logika induktif adalah logika yang mempelajari asas-asas penalaran yang benar yang berawal dari hal yang khusus sampai pada kesimpulan yang bersifat umum, yang bersifat boleh jadi atau kemungkinan,

4) Logika material mempelajari langsung pekerjaan akal (sumber-sumber dan asalnya pengetahuan), serta menguji hasil-hasil logika formal dan mengujinya,

5) Logika murni merupakan pengetahuan mengenai asas-asas dan aturan-aturan logika yang berlaku umum pada semua segi,

6) Logika terapan adalah pengetahuan logika yang diterapkan dalam setiap cabang ilmu, bidang-bidang filsafat, dan juga dalam pembicaraan yang mempergunakan bahasa sehari-hari,

7) Logika filsafat adalah suatu ragam atau bagian logika yang berkaitan dengan pembahasan-pembahasan dalam bidang filsafat.

8) Logika matematik merupakan suatu bentuk logika yang mengkaji penalaran yang benar dengan menggunakan metode-metode matematik.

Di samping pembagian tersebut, Alex Lanur Ofm berpendapat bahwa logika dapat dibedakan atas dua macam, namun keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua logika tersebut adalah: 1) Logika kodratiah adalah pengaruh dari dalam diri manusia yang timbul secara spontan yang cenderung subyektif. Logika kodratiah seringkali menyesatkan akal budi yang dapat bekerja secara obyektif. 2) Logika ilmiah adalah logika yang membantu logika kodratiah dengan memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi.

Abad ke-19, perkembangan pemikiran filsafat terpecah belah. Pemikiran filsafat pada saat itu telah mampu membentuk sesuatu  kepribadian tiap-tiap banggsa dengan pengertian dengan cara sendri . ada filsafat America, filsafat prancis, filsafat inggris ,filsafat jerman tokohnya adalah :Hegel(1770-1831), Karl Mark(1818-1883), August Comte(1798-1857) .

 

 

Written by psychology news

psychology news

Sebagai pengunjung yang baik, tinggalkan lah koment pada kotak koment di bawah yang dapat membangun , atau pun shering pengetahuan anda :D , biasakanlah meninggalkan jejak sebelum pergi

Incoming search terms:

  • filsafat antroposentris
  • kosmosentris
  • pengertian antroposentris
  • pengertian logosentris
  • pengertian kosmosentris
  • Pemikiran filsafat kosmosentris dan filsafat antroposentris
  • Orang yang pertama kali menggunakan kata filsafat
  • pengertian cosmosentris
  • Penertian kosmosentris dan antroposentris
  • pengertian logosentris dalam filsafat ilmu
  • pengertian dari kosmosentris
  • konsep logos menurut alexander
  • pengertian astroposentris
  • filsafat kosmosentris dan antroposentris
  • cosmosentris dalam filsafat
  • contoh kehidupan sehari-hari logika kodratiah logika alamiah dan logika ilmiah dalam filsafat ilmu
  • arti teosentrisme logosentrisme
  • arti dari kosmosentris
  • pengertian kata antroposentris
  • apa yang dimaksud cosmosentris teosentris antroposentris dan logosentris dalam ilmu filsafat
  • apa pemikiran filsafat antroposentrif
  • cabang-cabang antroposentris
  • pengertian pemikiran kosmologis
  • pengertian viator mundi
  • Penjelasan Kosmosentris
  • phytagoras yang pertama kali menggunakan kata filsafat
  • cosmosentris teosentris antroposentris
  • pemikiran kosmologis
  • fjelaskan pengertian dari kosmosentris
  • filsafat kosmosentris dan filsafat antroposentris
  • filsafat pertama kali digunakan oleh
  • Filsafat kosmosentrir dan filsaeat antroposentris
  • filsafat inggris dan artinya
  • antroposentris adalah pemikiran filsafat yang brdasarkan ?
  • kosmosentris antroposentris teosentris modern post modern
  • orang pertama yang menggunakan kata filsafat
  • dasar Filsafat perancis
  • orang yang pertama menggunakan kata filsafat
  • Pemikiran filsafat antroposentries
  • pemikiran filsafat antroposentris
  • pemikiran filsafat kosmosentri dan antroppsentris
  • substansi dan esensi thomas aquinas
Dasar filsafat | psychology news | 4.5

Leave a Reply