MAKALAH PERKEMBANGAN MASA KANAK-KANAK AWAL DAN AKHIR

By On Wednesday, June 19th, 2013 Categories : psikologi perkembangan
Share

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang Masalah

Psikologi perkembangan adalah adalah cabang psi. yang mempelajari tentang perkembangan dan kemunduran tingkah laku manusia dengan mempertimbangkan secara ontogenetic dan phylogenetik.

Pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang perkembangan masa kanak-kanak awal dan akhir.

 

1.2              Masalah atau Topik Bahasan Makalah

Permasalahan-permasalahan utama yang akan kami bahas yaitu seputar : pengertian masa kanak-kanak awal dan akhir, aspek perkembangan: fisik atau motorik, emosi, social, intelligensi atau kognisi, bahasa, kepribadian, moral, dan agama serta implikasi terhadap pendidikan agama.

 

1.3              Tujuan Penyusunan Makalah 

Makalah ini dimaksudkan untuk membahas tentang berbagai hal yang berhubungan dengan  pengertian masa kanak-kanak awal, pengertian masa kanak-kanak akhir, aspek perkembangan: fisik atau motorik, emosi, social, intelligensi atau kognisi, bahasa, kepribadian, moral, dan agama serta implikasi terhadap pendidikan agama serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Perkembanga

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    PENGERTIAN MASA KANAK-KANAK AWAL

Masa anak-anak dimulai kira-kira usia 2 tahun sampai kira-kira usia 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Masa anak-anak dibagi menjadi dua yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berlangsung dari umur 2 tahun s.d. umur 6 tahun dan masa anak-anak akhir dari 6 tahun sampai dengan pubertas. pada bab ini akan dibahas perkembangan masa anak-anak awal.

Masa anak awal disebut juga sebagai:

  1. Usia sulit atau mengundang masalah

Biasanya anak pada usia ini bertingkah laku bandel, keras kepala, tidak nurut, menolak, negativistik, melawan, marah tanpa alasan, sering bangun malam karena terganggu mimpi buruk, takut yang tidak jelas sebabnya, cemburu pada kakak atau adik.

  1. Usia Bermain.

Anak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermain baik dengan teman-teman seusianya maupun dengan mainan. Bermain dengan mainan mencapai puncaknya pada awal masa kanak-kanak dan makin menurun saat anak mencapai usia sekolah. Penurunan ini bukan berarti minat anak untuk bermain dengan mainan menurun, tetapi hal ini terjadi karena pada awal usia sekolah anak mulai banyak disibukkan dengan aktivitas permainan fisik yang tidak menggunakan mainan. Ketika sendiri mereka masih bermain dengan mainan.

  1. Usia Prasekolah

Para pendidik menyebut masa ini dengan istilah usia prasekolah. Karena pada usia ini anak belum cukup tua untuk masuk pendidikan formal. Untuk mempersiapkan menuju jenjang pendidikan formal anak di usia ini biasanya anak dimasukkan ke Taman Kanak-Kanak maupun Kelompok bermain.

  1. Usia Berkelompok

Para psikolog menyebut masa ini dengan istilah usia berkelompok. Pada masa ini anak belajar dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan untuk kehidupan sosial yang matang di masa-masa selanjutnya.

  1. Usia Menjelajah

selain menyebut sebagai usia berkelompok, Para psikolog juga menyebut masa ini dengan sebutan usia menjelajah. Pada masa ini anak-anak ingin mengetahui kondisi lingkungan, bagaimana mekanismenya, bagaimana rasanya, dan bagaimana ia bisa menjadi bagian lingkungan.

  1. Usia Bertanya

Sebutan berikutnya menurut psikolog untuk masa ini adalah usia betanya. Salah satu cara untuk menjelajah dan mencari tahu lingkungan sekitarnya adalah dengan bertanya. Sehingga masa ini dsiebut dengan istilah usia bertanya.

  1. Usia Meniru

Ciri yang menonjol pada anak usia ini adalah meniru perilaku dan ucapan orang lain sehingga pada masa ini disebut dengan istilah usia meniru.

 

  1. B.     PENGERTIAN MASA KANAK-KANAK AKHIR

Akhir masa kanak-kanak (late childhood) berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saat individu menjadi matang secara seksual. Permulaan masa akhirkanak-kanak ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu. Masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anak sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai dan perilaku.

Selama setahun atau dua tahun terakhir dari masa kanak-kanak terjadi perubahan fisik yang menonjol dan hal ini juga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai dan perilaku dengan menjelang berakhirnya periode ini dan anak mempersiapkan diri, secara fisik, psikologis untuk memasuki masa remaja.

Tibanya akhir masa kanak-kanak dapat secara tepat diketahui, tetapi orang tidak mengetahui secara tepat kapan periode ini berakhir karena kematangan seksual -yaitu kriteria yang digunakan untuk memisahkan masa kanak-kanak dengan masa remaja- timbulnya tidak selalu pada usia yang sama.

 

  1. C.    ASPEK PERKEMBANGAN FISIK ATAU MOTORIK MASA KANAK-KANAK AWAL DAN AKHIR

Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang komplek dan sangat mengagumkan. Semua organ ini terbentuk pada periode prenatal (dalam kandungan). Berkaitan dengan perkembangan fisik ini, Kuhlen dan Thompson.[1] mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu:

  1. System syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi.
  2. Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik.
  3. Kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru.
  4. Stuktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.

Perkembangan ketrampilan motorik merupkan faktor yang sangat penting bagi perkembangan pribadi secara keseluruhan. Beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik bagi konstelasi perkembangan individu, yaitu:

  1. Melalui ketrampilan motorik anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki ketrampilan memainkan boneka.
  2. Melalui ketrampilan motorik anak dapat beranjak dari kondisi “helplessness” (tidak berdaya) pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya, kekondisi yang “independence” (bebas, tidak bergantung). Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lainnya, dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan “self confidence” (rasa percaya diri).
  3. Melalui ketrampilan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah (school adjustment). Pada usia pra sekolah (taman kanak-kanak) atau usia kelas-kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis, dan baris-berbaris.
  4. Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan ia kan terkucil atau menjadi anak yang “finger” (terpinggirkan).
  5. Perkembangan ketrampilan motorik sangat penting bagi perkembangan “self-concept” atau kepribadian anak.

Seiring dengan perkembangan motorik ini, bagi anak usia pra sekolah (taman kanak-kanak) atau kelas rendah SD, tepat sekali diajarkan atau dilatih tentang hal-hal berikut:

  1. Dasar-dasar ketrampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar.
  2. Ketrampilan berolah raga (seperti senam) atau menggunakan alat-alat olah raga.
  3. Gerakan-gerakan permainan, sseperti meloncat, memanjat dan berlari.
  4. Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban.
  5. Gerakan-gerakan ibadah salat.[2]

 

  1. D.    ASPEK PERKEMBANGAN EMOSI
  2. Pengertian Emosi

Menurut English and English, emosi adalah “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and glandular activites” (suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar motoris).

  1. Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik Individu

Dalam pengertian di atas, dikemukakan bahwa emosi itu merupakan warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu. Contohnya: gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci, dan sebagainya. Apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai maka akan memperkuat semangat. Sedangkan perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani) individu dapat dijelaskan dengan gambaran sebagai berikut:

Jenis Emosi Perubahan Fisik
  1. Terpesona
  2. Marah
  3. Terkejut
  4. Kecewa
  5. Sakit/marah
  6. Takut/tegang
  7. Takut
  8. Tegang
  9. reaksi elektris pada kulit
  10. peredaran darah bertambah cepat
  11. denyut jantung bertambah cepat
  12. bernafas panjang
  13. pupil mata membesar
  14. air liur mengalir
  15. berdiri bulu roma
  16. terganggu pencernaan, otot menegang atau bergetar
  1. Ciri-ciri Emosi

Emosi sebagai suatu peristiwa psikologi mengandung ciri-ciri sebagi berikut:

  1. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya seperti pengamatan dan berpikir.
  2. Bersifat fluktuatif(tidak tetap).
  3. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.
  4. Pengelompokan emosi

Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu:

  1. Emosi sensoris, adalah emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti: rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
  2. Emosi psikis, adalah emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan. Yang termasuk emosi ini, di antaranya adalah:
  • Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk: rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah, rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran, rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus dipecahkan.
  • Perasaan sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti: rasa solidaritas, persaudaraan, simpati, kasih sayangdan sebagainya.
  • Perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik buruk atau etika (moral). Contoh: rasa tanggung jawab, rasa bersalah apabila melanggar norma, rasa tentram dalam menaati norma.
  • Perasaan keindahan(estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebenadaan maupun kerohanian.
  • Perasaan ketuhanan, salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk tuhan, dianugrahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal tuhannya. Dengan kata lain, manusia dikaruniai insting religious (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai “Homo Divinas” dan “Homo Religius”, yaitu sebagai makhluk yang bertuhan atau makhluk beragama.
  1. Teori-teori emosi
    1. Canon Brand merumuskan teori tentang pengaruh fisiologis terhadap emosi. Teori ini menyatakan bahwa situasi menimbulkan rangkaian pada proses syaraf.
    2. Menurut teori James dan Lange, bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih.
    3. Lindsley mengemukakan teorinya yang disebut “activition theory” (teori penggerakan). Menurut teori ini emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak.
    4. Jhon B. Waston mengemukakan bahwa ada tiga pola dasar emosi, yaitu takut, marah, dan cinta. Ketiga jenis emosi tersebut menunjukkan respons tertentu pada stimulus tertentu pula, tetapi kemungkianan terjadi pula modifikasi (perubahan).[3]

 

 

 

  1. E.     ASPEK PERKEMBANGAN SOSIAL

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diriterhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi melebur diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.

Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti, dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajartentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik orang tua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya.

Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermainnya, anak mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial. Pada usia anak, bentuk-bentuk tingkah laku sosial itu adalah sebagai berikut :

  1. Pembangkangan (negativisme), yaitu suatu bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orangtua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak.
  2. Agresi (agression), yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi ini merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan/keinginannya) yang dialaminya.agresi ini mewujud dalam perilaku menyerang, seperti: mencubit, memukul,menendang, dan sebagainya.
  3. Berselisih/ bertengkar (quarreling), terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung oleh sikap dan perilaku anak lain, seperti diganggu pada saat mengerjakan sesuatu atau direbut barang atau mainannya.
  4. Menggoda (teasing), yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif. Menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan), sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang diserangnya.
  5. Persaingan (rivarly), yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong (distimulasi) oleh orang lain. Sikap persaingan ini mulai terlihat pada usia empat tahun, semangat bersaing ini berkembang dengan lebih baik.
  6. Kerjasama (cooperation), yaitu sikap mau bekerja sama dengan kelompok. Anak yang berusia dua atau tiga tahun belum berkembang sikap bekerja samanya, mereka masih kuat sikap “self centered” nya.
  7. Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior), yaitu sejenis tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap “bossiness”.wujud dari tingkah laku ini seperti meminta,menyuruh, atau mengancam.
  8. Mementingkan diri sendiri (selfishness), yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya. Anak ingin selalu dipenuhi keinginannya dan apabila ditolak, maka dia protes dengan menangis, menjerit atau marah-marah.
  9. Simpati (simpaty), yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerja sama dengannya . seiring dengan bertambahnya usia, anak mulai dapat mengurangi sikap “selfish” nya dan dia mulai mengembangkan sikap sosialnya, dalam hal ini rasa simpati terhadap orang lain.

Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosilanya, baik orang tua, sanak keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya.[4]

 

  1. F.     ASPEK PERKEMBANGAN INTELLIGENSI ATAU KOGNISI

Pada dasarnya dalam keadaan pertumbuhan yang biasa, pikiran berkembang secara berangsur-angsur, sampai anak mencapai umur delapan sampai dengan 12 tahun, ingatannya menjadi kuat sekali biasanya mereka suka menghafal banyak-banyak. Anak mengalami masa belajar. Pada masa belajar ini anak menambah pengetahuannya, menambah kemampuannya untuk mencapai kebiasaan yang baik.

Anak tidak lagi bersifat egosentris artinya anak tidak lagi memandang diri-sendiri sebagai pusat perhatian lingkungannya,. Anak mulai memperhatikan keadaan sekelilingnya dengan obyektif. Karena timbul keinginannya untuk mengetahui kenyataan, keinginan itu akan mendorongnya untuk menyelidiki segala sesuatu yang ada di lingkungannya.

Minat anak ditujukan kepada benda –benda yang bergerak. Anak yang sehat pertumbuhannya suka bergerak, selalu giat, dan berbuat sesuatu. Hal-hal yang mengandung kegiatan sangat menarik perhatiannya. Dengan senang hati ia mengikuti bermacam-macam kegiatan walaupun perhatiannya masih berpindah-pindah, belum terpusat kepada sesuatu dalam jangka waktu yang lebih lama. Kenyataan itu hendaknya mendapat perhatian gurunya di sekolah dan orang tuanya di rumah. Anak harus banyak deiberi klesempatan untuk bergerak, berbuat dan bertindak. Bila kegiatan ini kurang mendapat penyaluran atau bimbingan yang baik, maka besar kemungkinan anak hanya bertindak dengan asal berbuat saja

Dalam masa anak sekolah, anak sangat suka mengumpulkan benda-benda seperti perangko, gambar-gambar, bungkus rokok, bungkus korek api, dan lain sebagainya. Perkembangan fantasi mengalami perubahan setelah anak berumur delapan tahun, dongeng-dongeng dan cerita yang fantastis sudah tidak disukai lagi karena kemampuan berfikirnya bertambah kritis. Mereka hanya mau menerima sesuatu yang masuk di akal. Sekarang anak lebih suka membaca cerita yang sungguh-sungguh terjadi, paling tidak cerita yang mendekati kenyataan. Perasaan, khayal, dan sugesti masih mempengaruhi cara berfikirnya, itulah salah satu alasannya mengapa kesaksian yang diberikan anak-anak belum dapat dipercaya sepenuhnya[5].

 

  1. G.    ASPEK PERKEMBANGAN BAHASA

     Kecerdasan atau intelegensia anak itu meliputi kecerdasan kognitif, emosi dan sosial. Pada usia batita, perkembangan kecerdasan anak ini tampak mengalami lonjakan besar. Dari mahluk kecil yang lemah dan “keberadaannya” kurang menonjol menjadi bagian dari keluarga yang justru nyaris menyedot hampir seluruh perhatian anggota keluarga lainnya.

Nah, salah satu komponen yang mendukung anak dalam bersosial adalah bahasa. Dengan bahasa, anak dapat merespon segala rangsangan yang menghampirinya, hanya saja cara bayi merespon tidak seperti orang dewasa dalam menerapkan pola interaksi secara lazim. Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.

Menurut Piaget, semua anak sejak lahir telah dilengkapi dengan alat nurani yang berbentuk mekanikal umum untuk semua kebolehan termasuk kebolehan berbahasa[6].

Beberapa bulan setelah ulang tahunnya yang pertama, tiba-tiba Anda menyadari kalau “bayi” Anda kini sudah mampu berkomunikasi bahkan “berbicara” dengan anggota keluarga lainnya. Semakin hari semakin banyak pula perbendaharaan kata. Maka menjelang usianya yang ke tiga, ia pun sudah mampu menyusun kalimat dan menjelma menjadi mahluk yang “ceriwis” sekali.

Anda dapat membantu anak untuk menambah perbendaharaan kata, memperkenalkan hal-hal baru, membetulkan ucapan yang salah, menanggapi dan memuji usahanya. Anak akan senang bila ia mampu menguasai bahasa yang memungkinkan ia mengatakan isi hatinya.

Pada usia ini kemampuan anak untuk menyerap pengetahuan bahasa amat menakjubkan. Dan kalau anak mulai bisa menguasai bahasa dan bisa mengatakan maksudnya, maka ia akan lebih mudah dikendalikan.

Bagaimana caranya? Bercakap-cakaplah dengan wajar pada waktu-waktu Anda bersamanya. Misalnya saat mandi, sebutkan bagian-bagian tubuh yang masih belum diketahuinya. Saat berpakaian, sebutkan jenis pakaian yang sedang dikenakan. Ingat, Anda juga harus menahan diri untuk menyela bila ia tampak sedang berusaha mengatakan sesuatu.

 

  1. H.    ASPEK PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
  2. Perkembangan emosi

Emosi merupakan salah satu aspek perkembangan yang melekat pada diri anak-anak. Kondisi emosi itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu positif (misalnya, gembira) dan negatif (misalnya sedih). Konsep emosi cukup penting bila dikaitkan dengan fungsinya dalam hubungan interpersonal. Dalam hal ini, ekspresi emosi akan menjadi fasilitasi bagi seorang anak untuk dapat mengungkapkan perasaannya, perilakunya, serta keinginan-keinginannya. Pada hubungan antara anak dan orangtua, ekspresi emosi merupakan bahasa pertama kali dalam berkomunikasi. Seorang bayi telah mampu bereaksi terhadap ekspresi wajah dan nada suara orang tuanya.

Sebaliknya, orang tua akan berusaha “membaca” makna dari tangisan bayinya. Seiring dengan usia, pola manajemen emosi yang diajarkan orangtua kepada anak-anaknya akan membawa dampak terhadap perkembangan emosi seseorang. Orangtua yang mengajari anak untuk dapat memonitor emosi anak dan memandang emosi negatif anak sebagai sesuatu hal yang wajar disertai dengan cara-cara mengatasinya akan memunculkan kemampuan anak dalam mengatur emosi sehingga menghindarkan anak dari masalah-masalah perilaku. Pada masa kanak-kanak, dibutuhkan kemampuan anak untuk dapat mengungkapkan emosinya secara positif, termasuk di dalamnya adalah sebab dan akibat dari perasaan yang mereka miliki. Di samping itu, anak diharapkan mulai mampu merefleksikan emosi yang mereka rasakan sekaligus mengatur emosi mereka sesuai dengan konteks sosial yang ada. Dalam hal ini, orang-orang di sekeliling anak dapat membantu perkembangan emosionalnya dengan bersikap lebih peka terhadap perasaan dan kebutuhan anak. Orang dewasa seharusnya membantu anak untuk dapat memahami emosi yang mereka rasakan sekaligus belajar untuk mengekspresikannya secara positif di dalam kehidupan sehari-hari. Seiring dengan waktu, emosi memainkan peran yang kuat terhadap hubungan sosial seorang anak. Seorang anak yang dapat mengatur emosi secara positif akan menjadi anak yang populer dan disenangi oleh teman-temannya.

  1. Perkembangan konsep diri

Aspek lain dalam perkembangan kepribadian anak adalah pemahaman atau konsep diri. Pada masa kanak-kanak awal, anak biasanya memiliki pemahaman diri yang bersifat fisik ataupun aktivitas yang mereka lakukan. Ketika anak ditanya tentang siapa mereka, maka jawaban yang muncul biasanya berkisar pada ukuran tubuh atau aktivitas yang disenanginya. Konsep pemahaman diri ini menjadi lebih bersifat internal pada masa kanak-kanak menengah dan akhir. Anak-anak yang berada pada tingkat Sekolah Dasar telah mampu menyebutkan sifat-sifat psikologis dalam mendeskripsikan dirinya. Di samping itu, aspek sosial cukup memegang peranan besar dalam memahami konsep dirinya. Pada saat ini, anak mulai membandingkan keadaannya dengan keadaan orang-orang di sekelilingnya, terutama dengan teman sebayanya. [7]

 

  1. I.       ASPEK PERKEMBANGAN MORAL

Masa Kanak-Kanak Awal

  1. Perkembangan Moral Pada Masa Kanak-Kanak Awal

Perkembangan moral pada masa kanak-kanak awal masih dalam tingkat yang rendah, karena perkembangan intelektual anak-anak belum mencapai titik di mana ia dapat mempelajari atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah, tidak mempunyai dorongan untuk mengikuti peraturan peraturan karena tidak mengerti manfaatnya sebagai anggota kelompok social.

Tahap ini ditandai dengan apa yang oleh Piaget disebut “moralitas melalui paksaan”, artinya anak-anak secara otomatis mengikuti peraturan-peraturan tanpa berpikir atau menilai, menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa, menilai semua perbuatan sebagi benar atau salah berdasarkan akibat-akibatnya, bukan berdasar pada motivasi yang mendasarinya.

Kohlberg memasukkan dua tahapan dari tingkat perkembangan pertama ini yang ia sebut sebagai “moralitas prakonvensional”. Dalam tahap pertama, anak berorientasi patuh dan hukuman dalam arti ia menilai benar salah berdasarkan konsekuensi fisik. Dalam tahap kedua, anak menyesuaikan diri dengan harapan social agar dipuji.[8]

  1. Disiplin dalam awal masa kanak-kanak

Disiplin ialah cara masyarakat mengajarkan perilaku moral kepada anak agar diterima kelompok. Ada tiga unsur penting dalam disiplin: peraturan dan hukum yang berfungsi sebagai pedoman bagi penilaian yang baik, hukuman bagi pelanggaran peraturan dan hukum, dan hadiah untuk perilaku yang baik atau usaha untuk berperilaku social yang baik.

Ada tiga jenis disiplin yang digunakan pada awal masa kanak-kanak.

  1. Disiplin otoriter, yakni orang tua atau pengasuh menetapkan peraturan-peraturan dan memberitahukan anak bahwa ia harus mematuhi peraturan tersebut.
  2. Disiplin yang lemah, yakni teknik disipin yang mendasarkan bahwa melalui akibat dari perbuatannya sendiri anak akan belajar bagaimana berperilaku secara social.
  3. Disiplin demokratis, yakni menekankan hak anak untuk mengetahui mengapa peraturan dibuat dan memperoleh kesempatan mengemukakan pendapatnya sendiri bila ia menganggap peraturan itu tidak adil.

Penerapan disiplin yang berbeda akan mendapatkan hasil yang berbeda pula.

  1. Pengaruh pada perilaku
  • Disiplin lemah; anak akan mementingkan diri sendiri, tidak menghiraukan hak orang lain, agresif dan tidak social.
  • Disiplin otoriter; anak akan sangat patuh pada orang dewasa, agresif dengan teman sebaya.
  • Disiplin demokratis; anak akan belajar mengendalikan perilaku yang salah dan mempertimbangkan hak-hak orang lain.
  1. Pengaruh pada sikap
  • Disipin otoriter; anak cenderung membenci oarng yang berkuasa, merasa diperlakukan tidak adil.
  • Disiplin lemah; benci terhadap orang yang berkuasa, merasa bahwa orang tua seharusnya memperingatkan bahwa tidak semua orang dewasa mau menerima perilaku yang tidak disiplin.
  • Disiplin demokratis; menyebabkan kemarahan sementara namun bukan kebencian.
  1. Pengaruh pada kepribadian
  • Semakin banyak hukuman fisik, anak semakin cemberut karena kepala dan negativistic.
  • Penyesuaian pribadi dan social yang buruk.
  • Mempunyai penyesuaian pribadi dan social yang terbaik.
  1. Pelanggaran

Pelanggaran adalah bentuk ringan dari menyalahi aturan atau perbuatan yang keliru. Pelanggaran pada masa awal kanak-kanak disebabkan oleh tiga hal; pertama, ketidaktahuan bahwa perilakunya tidak dibenarkan oleh kelompok social, atau lupa dan tidak mengerti dalam situasi apa peraturan itu berlaku. Kedua, anak belajar bahwa sengaja tidak patuh pada hal yang kecil umumnya akan mendapat perhatian yang besar daripada perilaku yang baik. Ketiga, dapat disebabkan oleh kebosanan, dengan melakukan kehebohan dll.

  1. Bahaya moral

Secara umum ada empat bahaya moral dalam tahap awal masa kanak-kanak. Pertama, disiplin yang tidak konsisten memperlambat proses untuk belajar menyesuaikan diri dengan harapan social. Kedua, kalau anak tidak ditegur atas perbuatan-perbuatan yang melanggar dan kalau anak dibiarkan memperoleh kepuasan sementara dari kekaguman dan iri hati teman-teman terhadap perilakunya yang salah, maka hal ini akan mendorong anak untuk terus mempertahankan perilaku yang salah.

Ketiga, terlampau banyak penekanan pada hukuman terhadap perilaku salah dan terlampau sedikit penekanan pada sikap yang kurang baik kepada orang yang berkuasa. Dalam hal ini hanya ada tiga alas an yang dibenarkan untuk menghukum anak, pertama kalau tidak ada cara lain untuk menyampaikan larangan kepada anak; kedua, hukuman diberikan kalau anak melakukan perbuatan yang terlarang; ketiga, agar supaya efektif hukuman jangan terlalu sering dilakukan karena anak akan menjadi kurang peka terhadap tujuan hukuman.

Keempat dan yang paling serius dari sudut pandang jangka panjang ialah anak yang terkena disiplin otoriter yang pokok penekanannya pada pengendalian eksternal tidak didorong  untuk mengembangkan pengendalian internal terhadap perilaku yang membentuk dassar bagi perkembangan lebih lanjut hati nurani.

 

Akhir Masa Kanak-Kanak

  1. Perkembangan Moral Pada Masa Kanak-Kanak akhir

Sikap dan perilaku moral pada masa akhir kanak-kanak, menurut Piaget konsep moral anak mengenai keadilan sudah berubah, relativisme moral menggantikan moral yang kaku. Kohlberg menamakan tingkat kedua dari perkembangan akhir masa kanak-kanak sebagai tingkat moralitas konvensional. Dalam tahap pertama,disebut Kohlberg sebagai moralitas anak baik, artinya anak mengikuti peraturan untuk mengambil hati orang lain dan mempertahankan hubungan yang baik. Dalam tahap kedua, Kohlberg mengatakan jika kelompok social menerima peraturan-peraturan yang sesuai bagi semua anggota kelompok, ia harus menyesuaikan diri dengan peraturan untuk menghindari penolakan dan celaan.

  1. Perkembangan kode moral

Pada akhir masa kanak-kanak seperti halnya pada awal masa remaja, kode moral sangat dipengaruhi oleh standar moral dari kelompok di mana anak mengidentifikasikan diri. Ketika itu kode moral berangsur-angsur mendekati kode moral dewasa dengan perilaku yang mendekati standar kode moral dewasa.

  1. Peranan disiplin dalam perkembangan moral

Disiplin menjadi masalah yang serius bagi anak yang lebih besar. Penggunaan secara kontinu teknik-teknik disiplin yang ternyata efektif ketika anak masih kecil, cenderung menyebabkan kebencian pada anak yang lebih besar. Esensi disiplin bagi anak yang lebih besar:

  1. Bantuan dalam mendasarkan kode moral

Pengajaran mengenai benar salah seyogyanya menekankan alasan mengapa pola perilaku tertentu diterima dan pola lain ditolak, dan diarahkan untuk menolong anak memperluas konsep yang luas, lebih abstrak.

  1. Ganjaran

Ganjaran seperti pujian atau perlakuan secara khusus karena berhasil mengatasi situasi sulit, dengan baik, mempunyai nilai pendidikan yang kuat jika pujian daan perlakuan khusus menunjukkan pada anak bahwa ia bertindak benar dan mendorong untuk mengulang perilaku yang baik.

  1. Hukuman

Seperti ganjaran, hukuman harus sesuai dengan perkembangan dan harus dilakukan secara adil; kalau tidak, dapat menimbulkan kebencian anak. Hukuman juga harus mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan harapan social di masa berikutnya.

  1. Konsistensi

Disiplin yang baik selalu konsisten. Apa yang benar hari ini, besok, lusa pun juga benar. Perbuatan yang salah harus mendapat hukuman yang sama bila perbuatan itu setiap kali diulang.

  1. Perkembangan suara hati

Istilah suara hati berarti suatu reaksi khawatir yang terkondisi terhadap situasi dan tindakan tertentuyang telah dilakukan dengan jalan menghubungkan perbuatan tertentu dengan hukuman. Suara hati merupakan polisi yang diinternalisasikan.[9]

Rasa bersalah merupakan penilaian diri negative yang terjadi bila individu mengakui bahwa perilakunya bertentangan dengan nilai moral tertentu yang wajib diikuti. Sebaliknya, rasa malu ialah reaksi emosional yang tidak menyenangkan dari individu terhadap penilaian negative orang lain, baik dugaan atau kenyataan, yang mengakibatkan individu mencela diri sendiri berhadapan dengan kelompok.

  1. Pelanggaran hukum pada akhir masa kanak-kanak

Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan atas apa yang diharapkan atau salah mengerti peraturan, atau untuk menguji tokoh otoriter dan usaha untuk memaksakan kemandiriannya. Namun kebanyakan pelanggaran hukum merupakan akibat dari ikut sertanya anak dalam perbuatan geng yang salah.

Dengan bertambahnya usia anak, ia cenderung lebih banyak melanggar peraturan di rumahmaupun di sekolah daripada perilakunya waktu ia lebih muda. Pelanggaran di rumah sebagian ingin menegakkan kemandiriannya, sering menganggap peraturan tidak adil. Sedangkan di sekolah, anak yang lebih besar tidak lagi menyenangi sekolah, tidak menyukai guru, menganggap beberapa mata pelajaran membosankan sehingga ia “berhenti belajar” dan tidak memusatkan perhatian pada mata pelajaran tersebut, tidak lagi didukung oleh teman-teman sekelas, akan tetapi apapun penyebabnya, pelanggaran seringkali merupakan akibat dari kebosanan.

Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, pelanggaran menjadi semakin berkurang. Kemungkinan karena adanya kematangan, baik fisik maupun psikologis, tetapi kebanyakan karena kurangnya tenaga yang merupakan cirri pertumbuhan yang pesat yang mengiringi bagian awal dari masa puber.

 

  1. J.      IMPLIKASI TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA
    1. Implikasi Terhadap Pendidikan Agama Pada Akhir Masa Kanak-kanak

Salah satu sebutan yang banyak digunakan adalah usia kelompok, masa di mana anak-anak mempelajari dasar-dasar prilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu. Karena perkembangan utama yang terjadi selama awal masa kanak-kanak berkisar diseputar penguasaan dan pengendalian lingkungan, banyak ahli psikologi yang melabelkan awal masa kanak-kanak sebagai usia menjelajah, sebuah label yang menunjukkan anak ingin mngetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya, ini termasuk manusia dan benda mati. Salah satu cara yang umum dalam menjelajah lingkungan adalah dengan bertanya, jadi periode ini adalah meniru pembicaraan dan perilaku orang lain, oleh karena itu periode ini juga disebut usia meniru. Namun kecenderungan ini nampak kuat tetapi anak lebih menunjukkan kreativitas dalam bermain selama masa kanak-kanak dibandingkan masa-masa lain dalam kehidupannya, dengan alasan ini para ahli psikologi juga menamakan periode ini sebagai usia kreatif. Pada masa ini hendaknya pedidikan agama bersifat kreatif.

Menurut Yusuf (2002) pada masa usia prasekolah ini dapat diperinci menjadi dua masa, yaitu masa vital dan masa estetik; a) Masa Vital. Pada masa ini, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar, Freud menamakan tahun pertama dalam kehidupan individu itu sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan anak memasukkan apa saja yang dijumpai ke dalam mulutnya itu, tidaklah karena mulut sumber kenikmatan utama, tetapi karena waktu itu mulut merupakan alat untuk melakukan eksplorasi (penelitian) dan belajar. b) Masa Estetik. Pada masa ini dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Kata estetik di sini dalam arti bahwa pada masa ini, perkembangan anak yang terutama adalah fungsi panca inderanya. Kegiatan eksploitasi dan belajar anak terutama menggunakan panca inderanya, pada masa ini, indera masih peka, karena itu Montessori menciptakan bermacam-macam alat permainan untuk melatih panca inderanya sehingga dalam pendidikan agamanya perlu alat-alat permainan yang mengarah kepada pendidikan agama.

Bagi anak-anak keyakinan agama sebagian besar tidak berarti meskipun mereka menunjukkan minat dalam ibadah agama. Tetapi karena banyak hal yang disangkutpautkan dengan masalah agama, maka keingin tahuan mengenai masalah agama menjadi besar.

Konsep anak-anak mengenai agama adalah realistic, dalam arti anak menafsirkan apa yang didengar dan dilihat sesuai dengan apa yang sudah diketahui. Sepanjang awal masa kanak-kanak, minat pada agama bersifat egosentris. Tahap ni juga disebut tahap dongeng dari keyakinan agama, karena anak menerima semua keyakinannya dengan unsur  yang tidak nyata.[10]

  1. Implikasi Terhadap Pendidikan Agama Pada Akhir Masa Kanak-kanak

Label yang Digunakan oleh Para Pendidik. Para pendidik melabelkan akhir masa kanak-kanak dengan usia sekolah dasar. Para pendidik juga memandang periode ini sebagai periode kritis dalam dorongan berprestasi – suatu masa di mana anak membentuk kebiasaan utnuk mencapai sukses tidak sukses atau sangat sukses.

Apabila anak mengembangkan kebiasan untuk bekerja sesuai atau di bawahatau di atas kemampuannya, kebiasaan ini akan menetap dan cenderung mengenai semua bidang kehidupan anak, tidak hanya di bidang akademik saja.

Bagi anak 7 atau 8 tahun, ukuran “dosa”  yang paling buruk berbeda dari ukuran anak lain. Ia meniru pakaian dan perilaku anak yang lebih tua danmengikuti peraturan kelompk sekalipun bertentangan dengan peraturan dirinya,keluarga dan peraturan sekolah.

Minat anak yang mengikuti kegiatan keagamaan berkurang, meskipun anak masih senang bertemu dengan teman-teman. Namun anak seringkali meragukan pelajaran agama dan kemanjuran doa.

 

 

BAB 3

PENUTUP

 

Penyusun mengakui bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kelemahan dan kekurangan yang semestinya perlu ditambah dan diperbaiki. Uraian dan contoh yang diambil masih sangat kurang. Oleh sebab itu, segala masukan yang bersifat positif sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang. Harapan penyusun semoga inti dari permasalahan yang kita bahas ini dapat dipraktikkan di kehidupan sosial.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hurlock, Elizabeth B., 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc Graw-Hill     Kogakusha Ltd,

Hurlock, Elizabeth B., 1976 Developmental Psychology New Delhi: Tata Mc     Graw-Hill Publishing Company Ltd,

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan; suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga

Jurnal penyelidikan IPBL, jilid 7, 2006, Pemerolehan Bahasa Kanak-Kanak; Satu Analisis Sintaksis

Syamsu Yusuf, 2002, Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja Bandung: PT Rosdakarya Offset

Zulkifli, Drs, Psikologi Perkembangan, Bandung, Remaja rosda karya , 1987

 

Artikel :

http://www.mimpsy.blog.frienster.com diakses tanggal 5 Desember 2010 jam 21.27 WIB.

http://www.scribd.com/doc/30272661/Akhir-Masa-Kanak-kanak diakses tanggal 5 Desember 2010 jam 21.27 WIB.

http://djavanesia.wordpress.com diakses tanggal 5 Desember 2010 jam 21.27 WIB.



[1] Hurlock, Elizabeth B., 1976 Developmental Psychology New Delhi: Tata Mc  Graw-Hill Publishing Company Ltd,

[2] Syamsu Yusuf, 2002, psikologi perkembangan anak dan remaja, (Bandung: PT Rosdakarya Offset), hal: 101-105.

[3] Syamsu Yusuf, 2002, psikologi perkembangan anak dan remaja, (Bandung: PT Rosdakarya Offset), hal: 114-118.

[4] Syamsu Yusuf, 2002, psikologi perkembangan anak dan remaja, (Bandung: PT Rosdakarya Offset), hal: 122-125.

[5] Zulkifli, Drs, Psikologi Perkembangan, Bandung, Remaja rosda karya , 1987 Hal58-59

[6] Jurnal penyelidikan IPBL, jilid 7, 2006, Pemerolehan Bahasa Kanak-Kanak; Satu Analisis Sintaksis, hal. 88.

[7] http://www.mimpsy.blog.frienster.com

[8] Elizabeth B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan; suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga. Hlm 123

[9]

Elizabeth B. Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan; suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga. Hlm 163

[10] Ibid. hlm 127