Teori Perkembangan Psikoseksual, Psikosial, Moral Dan Kognitif

Teori Perkembangan Psikoseksual, Psikosial, Moral Dan Kognitif

Teori Perkembangan Psikoseksual, Psikosial, Moral Dan Kognitif

1. Teori Perkembangan Psikoseksual (Sigmund Freud)

a. Oral-sensori ( lahir-18 bulan)

Anak yang terhalang kegiatan mengisap mungkin berusaha untuk memusakan kebutuhan ini di kemudian hari melalui aktivitas seperti mengunyah permen karet, merokok, dan makan yang berlebihan.

b. Anal-muskular (18 bulan-3 tahun)

Konfliks eksternal mungkin ditemui pada saat latihan ke toilet diusahakan dan kemudian terlihat dalam perilaku seperti konstipasi, keterlambatan, dan kesakitan.

c. Falik-lokomasi (3-6 tahun)

Sesuatu yang timbul dari konfles Oedipus dan elektra untuk laki-­laki dan perempuan secara berturut-turut terjadi, lancang, malu, dan takut mungkin merupakan ekspresi dari fiksasi pada tahap ini.

d. Latensi (6 tahun – pubertas)

Penggunaan kpping anak dan mekanisme pertahanan diri muncul pada waktu ini ketertarikan seksual mungkin disublimasi melalui permainan yang giat dan beroleh keterampilan.

e. Genital (pubertas-masa dewasa)

Ini adalah waktu peningkatan biologis pada saat interaksi emosi yang belum matur sering terjadi pada awal fase. Pada saatnya, berkembang kemampuan untuk memberi dan menerima cinta yang matang.

2. Teori Perkembangan Psikososial (Erikson)

a. Percaya Vs Tidak Percaya (lahir – 1 tahun)

Pada saat kebutuhan dasar bayi tidak terpenuhi secara adekuat, bayi menjadi curiga, penuh rasa takut, dan tidak percaya. Hal ini ditandai dengan perilaku makan, pola tidur dan ereliminasi yang buruk.

b. Autonomi Vs Ragu-Ragu dan Pemalu (1 – 3 tahun)

Jika perkembangan kemandirian tidak didukung oleh orang tua, anak mungkin memiliki kepribadian yang ragu-ragu; jika anak dibuat merasa buruk pada saat melakukan kegagalan, anak akan menjadi pemalu.

c. Inisiatif Vs Rasa Bersalah (3 – 6 tahun)

Pembatasan dari orang tua bisa mencegah anak dari perkembangan inisiatif. Rasa bersalah mungkin muncul pada saat melakukan aktivitas yang berlawanan dengan orang tua. Anak mesti belajar untuk memulai kativitas tanpa merusak hak-hak orang lain.

d. Industri Vs Inferior (6 – 12 tahun)

Perasaan inferior bisa terjadi pada saat dewasa memandang usaha anak belajar untuk belajar bagaimana sesuatu bekerja melalui manipulasi adalah sesuatu yang bodoh atau merupakan masalah. Ketidaksuksesan di sekolah, perkembangan keterampilan fisik, dan mencari teman juga mengkontribusi terjadinya inferior.

e. Identitas Vs Bingung Peran Atau Difusi (18 – 21 tahun)

Kegagalan untuk mengembangkan identitas pribadi bisa mengarah ke kebingungan peran, yang sering mncul dari perasaan adekuat, isolasi dan keragu-raguan. Penangguhan psikososial memberikan waktu yamg lebih untuk membuat keputusan yang vokasional.

f. Intimasi vs Isolasi (18 – 41 tahun)

Ketidakpastian individu mengenai diri sendiri akan mempunyai kesulitan mengembangkan keintiman. Seseorang tidak bersedia atau tidak mampu untuk berbagi untuk mengenal diri sendiri akan merasa sendiri.

g. Generativitas Vs Ahsorbsi Diri atau Stagnasi (40-65 tahun)

Asorbsi diri orang dewasa akan direnungkan dengan kesejahteraan pribadi dan peningkatan. Perenungan dengan diri sendiri mengarah pada stagnasi kehidupan.

h. Integritas Ego Vs Putus Asa (65 tahun- mati)

Resolusi yang tidak berhasil dalam krisis ini bisa menghasilkan perasaan putus asa karena individu melihat kehidupan sebagai bagian dari ketidakberuntungan, kekecewaan, dan kegagalan.

3.  Teori Perkembangan Moral (Kohlberg)

a. Tingkat premoral (lahir – 9 tahun)

Anak menyerah kepada kekuatan dan kepemilikan. Hidup dinilai untuk jumlah dan kekuatan dari kepemilikan.

1) Orientasi hukuman dan kepatuhan (lahir sampai – 6 tahun)

Anak menggabungkan label dari baik dan buruk dan benar dan salah dalam perilaku dalam bentuk konsekuensi dari tindakan-­tindakan. Elemen dari tawar menawar, pembagian yang seimbang, dan kejujuran menjadi muncul. Hidup dinilai dengan bagaimana anak dapat memuaskan kebutuhan dari orang lain.

2) Orientasi egoistik secara sederhana (6 – 9 tahun)

Anak menyesuaikan minat diri sendiri dengan aturan: anak berasumsi bahwa penghargaan atau bantuan akan diterima.

b. Moralitas konvensional (9-13 tahun)

1) Anak laki-laki yang baik dan anak perempuan yang manis ( 9 – 10 tahun )

Hidup dinilai dari seberapa bagus hubungan interpersonal (mengidentifikasi kepentingan individu secara emosional)

2) Autoritas mempertahankan moralitas

Identifikasian bergeser pada agama atau insittusi sosial seperti sekolah.

c. Tingkat moralitas pasca konvensional ( 13 tahun – meninggal)

Pencapaian nilai koral yang benar terjadi setelah dicapai formal operasional. Tidak semua orang mencapai tingkat ini.

1)  Orientasi kontraktual dan legalitas

Individu berhati-hati untuk tidak melanggar hak-hak dan kehendak orang lain. Terjadi konflik pandangan moral dan legal. Orang akan bekerja untuk mengubah aturan.

2) Orientasi prinsip etis yang universal

Tahapan ini jarang dicapai. Jika rangcangan pemikiran dari dalam diganggu maka akan muncul rasa bersalah.

4.  Teori Perkembangan Kognitif (Piaget)

Teori perkembangan kognitif menurut Piaget dapat menerangkan perkembangan anak seperti :

a. Sensori motor (lahir – 2 tahun)

Perkembangan dari refleks oromotor pada bayi baru lahir ke interaksi yang erat dengan lingkungan dan mulai menggunakan simbol-simbol.

b.  Pra-operasional (2 – 7 tahun)

Proses berpikir menjadi interalisasi; tidak sistematis dan mcngandalkan intuisi. Penggunaan simbol meningkat. Pengertian berdasarkan penampilan dan kejadian yang dilihatnya.

c.   Berpikir rasional ( 7 – 1 l tahun)

Anak dapat memusatkan berbagai aspek dari situasi secara simultan. Sudah mengeerti sebab akibat secara rasional dan sistematis. Mampu melakukan pengelompokan dan generalisasi, berkurangnya rasa ego memungkinkan anak bersosialisasi dengan anak lain.

d.  Formal rasional

Berkembangnya kemampuan berpikir abstrak dan imajinasi. Pengertian terhadap ilmu pengetahuan dan teori lebih mendalam.

Teori Perkembangan Psikoseksual, Psikosial, Moral Dan Kognitif | psychology news | 4.5

Leave a Reply